Renungan Tahun Baru
Friday, January 1, 2016
Moment pergantian tahun adalah suatu yang mendebarkan. Pada malam di detik-detik pergantiannya, banyak dari kita yang menyambutnya dengan bahagia dan perayaan dalam berbagai cara. Namun ada juga sebagian dari kita yang merasa gundah dan sedikit khawatir ketika memperhatikan cara orang merayakan moment ini. Tidak jarang pula beberapa pertanyaan ikut muncul di hati kita. Sudah mampukah kita menghadapi perkembagan dunia sekarang?. Sudah cukupkah bekal yang kita punya untuk mulai menjejaki langkah di tahun baru ini?. Sudah seimbangkah ilmu yang kita miliki?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang lahir dibenak kita, mempertimbangkan apa yang sudah kita miliki dengan hal dan kenyataan baru yang akan dihadapi nantinya.
Ilmu kita belum seimbang. Mungkin kata ‘ilmu’ itu yang menjadi pokok permasalahan utama dalam kehidupan. Faktanya, dunia semakin berkembang, yang tentunya ilmu pengetahuan juga berjalan searah dengannya. Beragam teknologi diciptakan, banyak inovasi dan jenis-jenis pekerjaan baru pun bermunculan. Semua hal itu terpaksa dan memang sudah seharusnya diimbangi dengan ilmu pengetahuan yang baru pula. Sangat tidak mungkin gelombang besar mampu diimbangi dengan sebuah gelas yang kosong, gelas itu hanya akan tenggelam menghilang kedalamnya atau terbawa hanyut entah kemana. Mungkin seperti itulah dapat kita ibaratkan jika ilmu yang kita miliki tidak seimbang dengan perkembangan dunia. Singkatnya, di umur dunia yang semakin menua serta segala hal diatasnya yang semakin merajalela, patut pula kita selaku manusia yang hidup diatasnya untuk senantiasa membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan baru, agar segala hal berjalan teratur dan kita pula tidak hanyut ke dalamnya.
Tiga ranah ilmu yang senantiasa harus terus kita jaga dan kuasai untuk mengimbangi perkembangan dunia. Pertama, ilmu untuk dunia. Pengetahuan yang dunia tuntut semakin tinggi dikarenakan perkembangan segala aspeknya semakin besar. Hal itu tentu saja menuntut pemuda-pemudi sekarang untuk berjuang lebih keras jika tidak mau hidup dalam kesusahan kedepannya. Tanpa ada maksud untuk menyindir siapapun, namun sarjana S1 sudah tidak cukup menjadi patokan pendidikan, terbukti dengan semakin banyaknya yang tidak terpakai, akibatnya semakin banyak pengangguran bertitel berkeliaran. Apalagi banyak diantara kita yang hanya bermodalkan ijazah SMA, dunia akan semakin berat untuk dicapai. Namun disamping itu semua, orang-orang masih bisa berdagang dan membuka usaha atau bercocok tanam untuk modal kehidupan, yang tidak jarang kita dapatkan bahwa ada yang lebih sukses dibandingkan mereka yang berpendidikan. Tapi tetap saja, semua hal itu tidak luput dari yang namanya ilmu pengetahuan yang menjadi kunci utamanya. Semua hal dan keadaan dunia akan senantiasa berubah dan berevolusi setiap waktu, yang menandakan ilmu dan pemikiran yang sudah kita miliki tidak selamanya setara dengan apa yang ada. Kita dituntut untuk senantiasa menambah ilmu pengetahuan agar kita jeli dan pandai. Dunia juga menuntut penghuninya ini untuk senantiasa ‘Iqra’’, tidak hanya membaca buku, juga membaca peluang, memahami keadaan dan orang-orang sekitar, dan melirik segala hal dalam kehidupan, termasuk membaca diri sendiri untuk refleksi kekurangan dan tidak lagi membuang kesempatan percuma.
Ilmu sosial adalah kunci kedua dalam kehidupan. Pada dasarnya, ilmu pengetahuan sudah menggariskan bahwasanya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, yang memerlukan orang lain dalam segala urusannya. Namun, sudah banyak diantara kita sekarang yang mengesampingkan hal ini. Padahal, tanpa kita sadari, sosial yang baik merupakan sebuah pintu gerbang untuk mendapatkan peluang yang baik pula. Betapa tidak, dengan bagusnya sosial, kita juga akan mudah mendapatkan banyak informasi, peluang pekerjaan, juga kita bisa saling bertukar ilmu pengetahuan dan pengalaman. Manusia sudah diciptakan dengan disuguhi rasa tenggang rasa di dalam dirinya, sehingga manusia akan saling membantu satu sama lain, terlebih lagi terhadap mereka yang dikenalnya. Pada intinya, setiap orang wajib meningkatkan ilmu dan jiwa sosialnya, bukan hanya karena masalah perlunya silaturrahmi dalam kehidupan, melainkan itu juga merupakan sebuah sarana yang baik untuk menadapatkan informasi dan saling bertukar pikiran.
Hal terakhir yang menjadi kewajiban dalam kehidupan sekarang adalah menguasai ilmu untuk akhirat, yaitu ilmu agama. Karena jika ilmu agama kita sekarang serba kekurangan, kita tidak akan mampu menjaga diri untuk senantiasa berada dalam koridor yang benar, melakukan hal yang baik, tanpa meninggalkan hal yang diwajibkan. Seharusnya, inilah ilmu utama yang harus dikuatkan dalam diri kita. Terlebih lagi kedepan akan muncul hal-hal baru yang mungkin dapat menggoyahkan iman dan keyakinan, maka ilmu agamalah yang akan membawa kita kembali ke lingkaran yang benar,
Di saat bergantinya tahun, menandakan setiap manusia pun semakin berumur. Itu mengindikasikan pula bahwa kita sudah harus merenungi sedikit kehidupan yang kita jalani. Tidak dapat dipungkiri bahwa satu per satu dari ulama, guru-guru besar yang senantiasa menjadi tiang agama bagi kita sekarang semuanya akan menghilang. Teguran mereka untuk menyadarkan akan jarang kita dapatkan, lambat laun dunia terus menjadi gelap, pelan, tanpa adanya pencerahan dari mereka lagi. Tibalah suatu saat nantinya dimana kita akan merindukan mereka, dikarenakan gelapnya dunia dan susah untuk menepak langkah. Lentera yang pernah mereka pegang, ilmu yang biasanya mereka tuangkan ke gelas kosong kita semua itu sudah menghilang, disaat kita tersadar hanyalah tinggal tempat gelap dengan beberapa gelas kosong berbekas. Sedikit ilmu yang pernah kita dapatkan dari mereka dulu, mungkin belum seimbang dengan pesatnya perkembangan dunia sekarang. Kita harus cepat menyadari, disaat masih ada beberapa dari mereka tempat untuk kita menimba ilmu-ilmu itu, bahkan siapa tahu jika mungkin kita bisa menjadi salah satu penerus dari mereka. Renungan itu pula supaya kita tidak hanya sekedar menghiasi pergantian tahun dengan meriahnya petasan dan kenikmatan ikan bakar saja, namun supaya ada hikmah dibalik semuanya. Pergantian tahun seharusnya juga menjadi sebuah refleksi bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Amin.






0 komentar: